Bingkisan dari Langit

“Put,bangun!Udah sholat subuh belum?”Suara Mama terdengar dari balik pintu kamarku yang berbatasan langsung dengan kamar mama.

“Iya ma,udah.”jawabku singkat yang dijawab tanpa berpikir dulu.

     Hingga beberapa detik berlalu menjadi beberapa menit,dan kemudian teumpul menjadi beberapa jam aku masih tertidur.Hari ini adalah hari kemerdekaan buatku,karena hari ini hari libur sekolah.Aku bisa sedikit bermalas-malasan.Hihihi,banyak deh bukan sedikit.Kemudian ku lirik jam dinding di kamar jarum pendeknya menunjukan jarum jam 06 sedangkan jarum panjangnya menunjukan angka 4.Ya ampun!!!

     Ya,aku lupa kalau hari ini aku belum sholat subuh.Astaghfirullah…..Aku segera bangkit dan bergegas menuju kamar mandi,mengambil wudhu dan sholat. Selesai sholat,aku langsung meminta maaf dan berdo’a.Tentu minta maaf sama Allah masa sama tetangga sebelah.Saat berdo’a aku sadar pintu kamarku dibuka oleh seseorang.Dan oowww!Mama.

“Mama tunggu kamu di ruang tengah.”ucap mama tegas.Aku segera mengangguk dan kemudian menuntaskan do’aku yang menjadi lebih panjang karena ditambah dengan harapan Semoga mama nggak marah,ya Allah.

Perlahan aku beringsut menuju ruang tengah.Kulihat mama tengah duduk menunggu di kursi kebesarannya.Sedang di kamar mandi kudengar  Ragil,adikku tengah gejebar-gejebur .Sedangkan bapak sudah berangkat kerja sejak subuh tadi.Maklumlah kerjanya jauh di ibukota.

“Duduk!”Mama menyuruhku duduk dengan intonasi tinggi.Sedangkan aku Cuma memasang senyum tegang plus bingung.Karena firasat nggak enak.

“Mama kecewa sama kamu!”Ucapan mama langsung menohok hatiku.Tak ku sangka kata-kata itu akan keluar dari mulut mama.Meski sudah berfirasat tidak enakAku yang memasang wajah innocent  tampak semakin membuat mama kesal.

“Tidak usah memasang wajah innocent seperti itu!Bisa-bisanya kamu bohong sama mama,bilang udah sholat padahal belum.Kamu itu udah baligh,udah hampir 16 tahun tapi bangun aja masih harus dibangunin.Kamu itu perempuan,mau jadi apa kalau pemalas seperti itu?!!”

Aku menghela nafas panjang…Haduwh.Aku gak sengaja bohong ma.Tadi aku lupa,Cuma berhubung masih ngantuk dan kesadaranku belum pulih 100% makanya aku langsung jawab udah.Belum sempat aku menjelaskan,mama sudah langsung menyerangku lagi.

“Kamu tahu,tidak ada aturannya sholat subuh jam 06.20.Tanya sama guru agama di sekolah!”

“Maaf ma.”

“Mama tidak suka melihat anak pemalas dan pembohong.Apalagi anak itu,anak mama sendiri.Mau jadi apa nantinya?!!”

Aku meneteskan air mata mendengar ucapan mama.Tersinggung?   Mungkin.Untuk pertama kalinya aku berbohong,tapi sudah mendapat kemarahan mama yang luar biasa.Meski untuk sebagian orang,ini adalah kesalahan kecil tapi tidak bagi mama.Ini adalah kesalahan besar dan fatal nampaknya.Apalagi untuk urusan ibadah,mana bisa dianggap remeh temeh.

 “Kamu adalah tumpuan harapan keluarga,kepada siapa lagi mama akan berharap bisa menitipkan Ragil,menitipkan nama baik keluarga kalau bukan padamu.”

“Kamu harus tahu,amalan yang pertama dihisab oleh Allah nanti itu adalah sholat.Kamu harus ingat bahwa kejujuran itu adalah mata uang yang berlaku dimana-mana.Dan tidak akan pernah ada pemalas yang sukses kecuali sukses menunda keberhasilannya.”

Aku diam,dan merekam pesan dan mencerna kalimat demi kalimat yang keluar di mulut mama.Kemarahannya adalah bukti cintanya.Dan itulah yang kusimpulkan detik ini hingga puluhan ribu detik hingga jutaan bahkan miliar dan triliunan detik ke depan.

         ***

“Selamat ya,kamu memang luar biasa!.”Lelaki tinggi tegap itu mengulurkan tangannya padaku yang kemudian ku balas dengan anggukan kecil.

Presentasiku akhirnya selesai dan dapat menarik hati client.Tender besar pun diraih oleh perusahaan,dan tentu aku pun mendapat bonus dari atasan.Ya,hampir setiap tender-tender besar aku menangkan.Karena itu juga aku menjadi anak buah kesayangan atasan-atasanku.

Usiaku kini kurang dari 25 tahun,setelah sebelumnya aku berhasil meraih gelar magister dengan cumlaude,memiliki rumah, beberapa bidang tanah masing-masing sekitar 2000 m dan kendaraan pribadi meski sederhana tapi aku bersyukur karena setidaknya aku bisa mandiri bahkan sejak saat kuliah semester 3.Ucapan mama yang dulu pernah membuatku mungkin merasa tersinggung yang kemudian aku maknai sebagai tanda sayangnya telah menjadi lecutan keras untukku meraih sukses.

Kuraih agenda kecil di atas laci meja kerjaku.Di sana tertulis schedule dan program-program hidupku.Ku rogoh tas kerja coklat dekat laptop,buku tabunganku!Insya Allah  sebentar lagi mimpiku yang satu ini akan tercapai.

Hingga mataku beralih pada laptop dan kembali menyelesaikan beberapa laporan kerja,aku harus menyelesaikan semua secepatnya agar nanti aku bisa mengambil cuti.

        ***

“Kapan kamu mau nyusul,Put?”Dita mulai menggodaku.

“Kapan-kapan deh.”Jawabku sekenanya.

“Mau sampai kapan kamu jadi jomblo?”sahut Reni.

“Hehe,biarin aku kan jojoba.”

Dita dan Reni,ke-2 sahabatku yang kini telah menikah hobby banget menyemangatiku untuk segera menikah.

“Apa perlu kita cariin?”

“Boleh juga tuh.”

“Serius Put?”

“Ya,boleh deh kebetulan pembantuku lagi pulang kampong,jadi bisalah kalian cariin.”

“Stres…Bukan pembantu neng,tapi calon suami.”

Akhirnya kami ber-3 ngakak.Hmm,entahlah samapi sejauh ini aku belum menemukan yang cocok.Dan itulah sebabnya mereka menawarkan diri menjadi mak comblang buatku.

“Minggu depan aku pulang kampung.”

“Cuti dong,berapa lama?”

“45 hari.”

“What?!!!”Mereka serempak berteriak histeris dan membelalakan mata setengah tidak percaya.Sedangkan aku Cuma ngangguk calm.

“Gila!Emang boleh sama boss?”

“Boleh,tadi aku udah bilang.”

“Emang kamu mau ngapain?”

“Ada deh.”

        ***

Mama dan bapak yang nampak sudah sepuh mendekapku penuh kehangatan.Sedangkan Ragil,adikku tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan tampan.Tahun depan insya Allah ia akan menyusulku ke Ibukota untuk kuliah disana.Kini ia tengah merengek menagih janjiku untuk membelikannya laptop.Setelah semua urusanku dengan Ragil selesai,mengantarnya membeli dan memilih laptop tentu dengan kocekku,aku utarakan rencanaku pada mama dan bapak.

“Mama,bapak,Insya Allah minggu depan kita akan berangkat ke tanah suci.”

“Maksudmu,Nak?”Tanya bapak.

“Puput sudah mengurus semuanya,besok kita latihan manasik haji.Mama dan bapak hanya perlu menyiapkan apa-apa yang perlu dibawa.”

Mama dan bapak nampak bingung,aku pun akhirnya menceritakan semuanya secara detail.

”Puput ingin mempersembahkan ini semua buat mama dan bapak.Puput sayang mama dan bapak.Selama ini Puput sering membuat mama dan bapak susah.Puput tahu sudah sejak lama bapak ingin naik haji,Cuma demi menyekolahkan Puput dan Ragil bapak mengurungkan niat bapak.”

Air mataku kembali menari dengan lincahnya.Selama ini aku jarang pulang,aku menyibukan diri mengejar karier semata-mata untuk mereka.Untuk mama.Untuk bapak.Untuk Ragil.

“Lantas bagaimana dengan pekerjaanmu,Nak?”

“Alhamdulillah atasan Puput sudah mengizinkan,meski mulanya keberatan tapi akhirnya setuju juga.”

“Hihihi,pake bujukan maut ya Kak?”Tanya Ragil menyela.

“Kamu ada-ada aja.”

“Mama bangga padamu,Put.”mama menatapku dengan tatapan lembut,segera aku menghambur dalam pelukannya.

“Bapak juga Put.Bapak bangga padamu.”Kini air mataku membanjiri baju bapak.

“Ragil juga bangga sama kakak,tapi…”

“Tapi apa?”Aku menatap adikku dengan rasa haru sekaligus penasaran.

“Tapi Ragil juga pengen cepet-cepet punya kakak ipar”tawanya membahana,sedangkan aku hanya manyun.

        ***

Sepulangnya kami dari tanah suci,aku sibuk packing.Maklumlah waktu tak banyak Cuma tersisa 5 hari lagi buat cuti.

Hingga kejutan itu datang.Kejutan yang tak pernah aku duga.hehe,bukan kejutan namanya kalau bisa di tebak.

“Assalamu’alaikum.” Salam seseorang itu jelas mengagetkanku yang tengah asik membaca beberapa email dari asistenku di kantor.

“Wa’alaikum salam.”jawabku dengan intonasi setenang mungkin.Karena jujur hatiku mendadak kebat-kebit.

“Silahkan masuk.Mau minum apa?”

“Nggak usah repot-repot,Put.Aku datang kesini untuk membicarakan sesuatu denganmu.”

“Ohhh..Tentang apa?Hmm,apa ada masalah dengan perusahaan?”Tanyaku mencoba menebak alasan kedatangan lelaki yang menjadi salah satu atasanku di kantor.

“Bukan…Bukan masalah perusahaan.”senyumnya tenang dan penuh wibawa.Ya,Allah bisa gak ya ritme detak jantungku sedikit lebih tenang?Pintaku dalam hati setiap kali berhadapan dengannya.Pria lulusan Jerman,usianya 3 tahun lebih tua dariku,anak ke-2 dari 3 bersaudara.Sedikit bicara banyak bekerja.Santun dan lembut perangainya.Idola banyak wanita,mulai dari kalangan tua,muda sampai balita.Hehehe.

“Apa orangtuamu ada di rumah?”Tanyanya kembali dengan sebuah senyum yang sangat cirri khas.

“Ada.”tentu dengan ragu aku menjawabnya.Aku bingung.Sedetik kemudian aku langsung balik bertanya.

“Memangnya ada apa?”

“Nanti juga kamu tahu.Boleh aku bertemu dengan mereka?”Aku menatapnya tak mengerti.Berani-beraninya ia membuatku penasaran di rumahku sendiri.

Akhirnya aku mengajak ia masuk ruang keluarga,tempat mama dan bapak tengah beristirahat.Mama dan bapak menyambutnya dengan hangat.Dengan tanpa banyak basa-basi setelah memperkenalkan diri,ia mengutarakan maksud kedatangannya dihadapanku,dihadapan mama,bapak dan tentu Ragil yang kini tengah mengintip dari kamarnya.

“Saya berniat untuk melamar putri bapak dan ibu.”ucapnya perlahan dan sedikit gugup.Tumben!Aku melongo.Bagaimana tidak?Selama ini sikapnya padaku sangat amat wajar,sangat professional.Bahkan tak ada tanda-tanda kalau ia tertarik padaku.

“Saya sangat berharap bapak,ibu dan Puput mau menerima lamaran saya.”

“Apa Nak Rahardian serius?”Tanya mama dengan intonasi tegas.

“Iya Bu,saya serius.”jawabnya dengan mantap.

“Bagaimana Nak?”Tanya bapak padaku.Ku lihat mereka nampak setuju.Mungkin karena melihat sosok Rahardian dengan keseriusannya.Tapi dengan segala kebijaksanaan mereka menyerahkan semua keputusan itu padaku.

Akhirnya aku meminta waktu pada Rahardian untuk menjawab lamarannya.Aku ingin mengadu kepada Sang Pemilik Kehidupan ini,aku ingin bertanya pada-Nya.

Hingga cutiku habis,aku belum menemukan jawabannya.Apa yang terjadi ya Allah?Ada banyak kekhawatiran menyelinap dalam diriku,mengenai karier terutama.

Di kantor aku sering bertemu dengannya.Bagaimana tidak?Ia atasanku.Namun tak pernah ia mempertanyakan jawaban dariku.Setidaknya itu bisa membuatku berpikir lebih tenang.

Kekhawatiran yang lain adalah mengenai sosok Rahardian yang begitu mengagumkan.Seperti yang pernah ku lukiskan,banyak wanita yang mengidolakannya,heu bahkan mungkin mengejarnya sampai titik darah penghabisan.Sedangkan aku?Rasanya dari segi penampilan jauh dari kata menarik bagi lelaki normal manapun.

“Bisa kamu ikut saya meeting siang ini?”Tanya Rahardian mengagetkanku.

“Bisa Pak.”jawabku gugup.

“Sejak kapan kamu memanggil saya bapak?”

“…….”

“Baiklah saya tunggu kamu di depan.”

“Apa jawabanmu?”Tanyanya dari balik kemudi.

“Jawaban apa?”tanyaku sok bego.

“Tentang lamaranku?”

“Lamaran?”

“Setidak penting itukah lamaranku buatmu,hingga kau melupakannya.”

“Saya rasa saya tidak pantas menjadi Ny. Rahardian.”

Dia menghela nafas panjang.”Apa ukuran kepantasan itu dimata kamu?”

“Anda berhak mendapatkan yang terbaik.dan bukan saya orangnya. Seorang penghafal quran, muda, sukses dan menarik berhak mendapatkan wanita shaleha, cantik, pintar, mapan dan…”

“bagi saya, kamu lah orangnya.”

Aku terdiam beku.

“kamu lah perempuan yang aku cari.”

Aku menatapnya.Ya Allah,benarkah?Rasanya dunia berhenti berputar.Rasanya tangisku nyaris pecah.Ya,Allah inikah janjiMu?Inikah janjiMu?

 

Dia dan Aku

Aku dan ketiga adikku kini tinggal di sebuah mesjid,di daerah Sindangkasih.Orangtuaku sudah tidak mampu lagi untuk membayar sewa rumah sehingga kami dipaksa untuk pergi meninggalkan rumah sewaan yang sudah hampir 5 tahun ini kami tempati. Ayah hanya seorang penarik becak,sedangkan ibu hanya seorang ibu rumah tangga.Penghasilannya pun tidak bisa dipastikan.Jika sedang banyak penumpang,Ayah bisa membawa uang hingga Rp 20.000 tapi kalau sudah sepi tak jarang juga ayah pulang dengan tangan hampa.Kadang kalau sudah begitu kami pun berpuasa seharian.

Ya Allah,Dia tinggal di mesjid.Rumahku yang sederhana tentu jauh lebih baik,tapi jarang sekali aku mensyukurinya.Orang tuaku memang bukan konglomerat tapi dapat dipastikan bahwa penghasilan mereka lebih dari Rp 20.000/harinya.Bahkan aku dan adikku pun hampir tidak pernah berpuasa jika tidak sedang bulan ramadhan.

Untuk uang jajan,kami mendapat bantuan dari kakak kami yang pertama.Pekerjaannya sebagai kuli di pasar memang tidak seberapa,tapi aku bersyukur karena setidaknya uang darinya bisa untuk kami mengganjal perut kalau sedang tidak ada makanan sama sekali di rumah.Uang sebesar Rp 100.000/minggunya yang dari kakak itulah,aku atur sedemikian rupa  untuk diriku dan ketiga adikku yang juga tengah duduk dibangku sekolah.

Kali ini aku mendesah,selama ini aku selalu mendapat uang saku dari mama untuk tiap minggu itu Rp 100.000.Aku menghabiskan uang sebesar itu untuk diriku sendiri.Sedangkan Dia?Menggunakan uang itu untuk dirinya dan ketiga orang adiknya.Terkadang aku juga suka merajuk meminta tambahan uang saku dari mama,apalagi kalau sudah ada les dan pelajaran tambahan.Dapat dipastikan uang sebesar itu akan kurang untukku.

Sebagai anak tukang becak,aku merasa sangat bangga pada Ayah.Meski banyak teman yang menghinaku,aku sama sekali tidak peduli.Aku bersyukur sekali karena aku masih diberi kesempatan untuk mengenyam bangku SMA.Biarpun dengan itu terkadang ibu harus bersedia meminjam uang sana-sini,tapi Alhamdulillah sampai detik ini kami bisa sekolah.Untuk seragam dan buku-buku,ibu biasanya meminta kepada tetangga,seragam-seragam bekas yang sudah tidak digunakan.

Ya Allah.Selama ini aku  dan adikku selalu mendapatkan seragam-seragam dan buku-buku baru dari mama.Hampir setiap tahun ajaran baru aku dan adikku ganti seragam,namun rasanya semua itu nyaris tidak pernah aku syukuri.

Setiap malam aku mengajar anak-anak mengaji di mesjid.Bersama mereka juga aku membagikan ilmu yang sedikit ini agar suatu saat nanti bisa bermanfaat.Tak jarang dari mengajar mengaji inilah,aku mendapat kiriman makanan atau bahkan uang dari para tetangga.Jujur,sekalipun aku orang tidak punya tak pernah terlintas dalam benakku untuk mengajar mengaji dan menjadikannya sebagai sebuah profesi yang dengannya aku mengaharapkan upah.Warga bersedia menampung keluargaku di mesjid ini pun,aku sudah merasa sangat beruntung.Sungguh aku ikhlas mengajar mereka mengaji.

Aku terdiam.Air mataku kini sudah tak kuasa untuk ku bendung.Aku tersentuh dengan niat tulus Dia mengajar mengaji anak-anak tetangganya.Dengan keadaanya yang penuh keterbatasan,Dia masih mampu berbagi dengan niat yang begitu tulus dan tanpa pamrih.

Kini,sudah hampir 6 bulan ibu pergi menjadi TKW.Belum ada kabar yang kami terima.Sebagai ana,aku merasakan kekhawatiran yang sangat besar namun demi ketiga adikku aku berusaha menyikapinya dengan tegar.Apalagi semenjak ayah jatuh sakit 2 minggu lalu.Ayah seperti kehilangan kesadarannya.Aku sendiri tidak tahu persis,penyakit apa yang tengah ayah derita.Mungkin karena terlalu banyak beban pikiran,sehingga ayah dilanda depresi.Kemarin paman menjemput ayah untuk dirawat di rumahnya.Sungguh,aku merasa beban ini sangat berat untuk aku pikul sendiri,namun aku yakin Allah tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan hamba-Nya.

Kali ini air mataku sudah benar-benar berselancar deras dan membasahi buku matematika Dia,sedikit demi sedikit.Dia dan ketiga adiknya terpaksa harus ditinggalkan ibunya untuk mengadu nasib di negeri antah berantah sementara ayah yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga pun terkena depresi.Tak bisa kubayangkan jika aku yang berada pada posisinya.

Sebagai seorang anak mimpiku satu,yaitu ingin bisa membanggakan orangtua dan membuat mereka bahagia.Untuk itulah selama ini,aku belajar dengan maksimal dan selalu berusaha mendapat juara di kelas.Aku tahu,mereka memperjuangkan aku untuk aku sampai di bangku SMA pun bukan dengan mudah.Aku tahu mimpiku untuk mengenyam bangku kuliah rasanya semakin jauh jika harus mengandalkan orangtua atau pun kakakku.Namun aku tak mau menggantungkan mimpiku,pada siapa pun selain pada-Nya.Meski sudah beberapa universitas menolak beasiswa yang aku ajukan dengan berbagai alasan,tapi aku yakin dengan ilmu yang selama ini aku cari.Nilai-nilai terbaik yang aku peroleh itu murni dari hasil belajarku.Hingga setiap semester aku selalu masuk ke-3 besar di kelas.Tidak ada suap/sogok/intrik untuk menghalalkan segala cara di dalamnya.Bukan berniat takabur,hanya saja aku tak mau menjalani kenyataan hidup ini dengan pesimis.Kalaupun tahun ini,aku tidak bisa meraih beasiswa untuk masuk universitas terbaik di negeri ini,aku akan kembali mencobanya tahun depan sambil mencari pekerjaan untuk membantu kakak menghidupi keluarga kami.

Aku menarik nafas dalam…Selama ini aku belajar mati-matian agar bisa mendapat juara yang kemudian aku menukarnya dengan fasilitas-fasilitas pemberian dari orangtuaku.Seperti pada saat aku mendapat juara ke-1 di kelas 1,aku mendapat handphone baru dari mama.Lalu saat aku mendapat juara ke-1 cerdas cermat,aku mendapat motor dari papa.Lalu ada komputer,kamus elektrik,dan semua hal yang sifatnya hadiah.Aku sama sekali tidak berpikir bahwa sebenarnya aku belajar untuk diriku sendiri.Aku pintar/aku bodoh sekali pun sebenarnya untuk diriku sendiri.Jika ada kesulitan sedikit,aku pasti mengeluh dan mengadukannya pada mama dan papa.Dan setelah itu,mama dan papa pasti akan turun tangan untuk membantu mencarikan solusinya.Aku tak pernah sadar dengan beban yang selama ini Dia pikul.Padahal aku dan Dia begitu dekat,biarpun kami bersaing dalam prestasi.Selama ini,Dia memang sering mendapat peringkat di bawahku,tapi semua Dia dapat dari hasil belajarnya sendiri.Bahkan dengan fasilitas yang serba minim,sedangkan aku?Les,privat dll setiap hari aku lakoni.Buku-buku sumber pun aku tak pernah kekurangan beda halnya dengan Dia.Tapi tak sedikit pun Dia mengeluh akan semua keterbatasannya,malah sekarang Dia sedang mengikuti seleksi beasiswa di salah satu universitas terkemuka di negeri ini.Dia dengan segala kerendahan hatinya,Dia dengan segala kejujuran dan kerja kerasnya,Dia dengan segala kecerdasan dan kesantunannya dan Dia dengan segala atribut keterbatasannya selalu saja membuatku bangga.

“Lit,kamu kenapa?”Bila sahabatku sepertinya begitu tampak bingung melihat aku menangis di kelas pagi ini.Ingin rasanya aku menceritakan apa yang tengah aku baca,namun Dia memintaku untuk menjaga buku catatan matematikanya

“Aku nggak kenapa-napa.Cuma kelilipan aja kok.”

“Kelilipan kok sampai bengkak gitu?”

“Iya,emang lagi sakit mata juga.”

Bila menatapku ragu.Selama ini Bila sahabat terdekatku,kalau ada masalah kami biasa berbagi.Tapi ini masalah Dia,dan nampaknya Dia pun tak ingin masalah atau lebih tepatnya ujian kehidupannya itu diketahui orang lain.Makanya Dia sengaja mengirim pesan singkat kepadaku dari tempatnya di karantina,untuk mengamankan buku matematika yang kini ada digenggamanku.Aku juga tidak berniat untuk mengkhianati amanahnya,semua ku baca dengan tanpa sengaja.Selama ini sudah hampir 3 tahun aku dan Dia berteman akrab,namun sama sekali aku tak pernah tahu biografi kehidupannya.Dia selalu tampak riang di kelas,humoris dan selalu tampak tenang.Jujur,aku sangat mengaguminya.

“Hmm,aku tahu jangan-jangan kamu lagi kangen ya sama seseorang?”

“Seseorang?Siapa?”

“Siapa lagi kalau bukan Diyananto.Rival sekaligus partner kesayanganmu.”

“Apaan sih Bil?Fitnah tahu…”

“Hihihi…berat banget bahasanya non.Yang jelas tuh buku matematikanya Dia ada di genggaman kamu.Beda ya kalau orang pinter,surat cintanya tuh pake bahasa matematik.”

“Bila..apaan sih?!Emang gak boleh apa kalau aku pinjem catatannya Dia?”

“Ciiee..Pinjem apa pinjem?Oiya gimana kabar Dia di karantina?Tinggal seleksi apalagi nih?”

“Tinggal wawancara.”

“Ohh,Alhamdulillah.Berarti peluangnya buat dapat beasiswa udah tinggal selangkah lagi dong..?”

“Iya,kita do’ain aja semoga dia lolos.”

“Aamiin,tenang aja Lit pacar kamu itu bukan Cuma jago sainsnya aja kok tapi dia juga jago bahasa inggris .Oiya satu lagi,kalau jadian bilang-bilang ya?!Hihihi bosen tahu lihat kalian jaim-jaiman terus.”

“Bilaaaa!Keterlaluan deh…”Aku mencubit pipi Bila dengan tanpa ampun.Yang dicubit hanya meringis dan manyun.

 

 

THE END

Satu

Wajah dingin itu seperti biasa pergi berlalu tanpa sepatah kata. Seolah ia ingin menunjukan ketidak sukaannya kepadaku. Aku sendiri tidak berminat untuk membuka dialog pagi ini. Aku tidak ingin merusak mood-ku. Selama ini aku sudah cukup tolerir terhadap sikapnya yang dingin dan keras kepala. Di kelas, aku pun tidak banyak bersuara. Ku biarkan ia merajai kelas hari ini bahkan ketika pelajaran sosiologi dimulai pun, aku yang biasa berdebat dengannya, menepis argument-argumennya yang kadang kurasa begitu radikal atau cenderung acuh terhadap permasalahan di masyarakat, lebih memilih diam dan tak peduli.

“Tumben kamu diem aja.” Yuri, teman sebangkuku mengomentari sikapku hari ini. Aku hanya tersenyum tipis.

“Ada masalah ya ?!”Tanyanya kembali. Aku hanya menggeleng dan kembali tersenyum.

Sudah hampir beberapa hari ini, aku bersikap diam. Setiap kali guru bertanya, kalau bukan guru yang menunjuk, aku tidak pernah bersuara. Aku pun tidak pernah maju ke depan lagi untuk sekedar mengemukakan pendapat-pendapatku. Dengan teman sekelas lainnya pun, aku berbicara seperlunya. Misiku kini hanya satu, menciptakan kualitas diri setinggi-tingginya meskipun tidak menjadi juara di kelas. Biarlah mereka sukses dengan cara mereka sendiri dan aku sukses dengan caraku sendiri.

Perlahan, semua teman-teman mempertanyakan perubahan sikapku. Aku yang dulu aktif di kelas, sering bertanya kepada guru dan menjawab ketika ada lontaran pertanyaan dari guru, meski tidak selamanya jawabanku benar, aku yang sangat suka diskusi dan periang tiba-tiba berubah menjadi sosok yang pendiam dan tertutup. Bahkan sebagian guru juga mempertanyakan sikapku itu. Sampai-sampai guru BP memanggilku ke ruangannya, namun itu tidak sedikit pun mengembalikanku seperti semula. Aku yang terlanjur kecewa kepada sebagian besar teman dan guru di kelas, tidak sedikit pun merasa kekecewaanku ini bisa terobati begitu saja.

Aku pun tidak ingin menceritakan kekecewaanku pada siapa pun termasuk guru BP atau mungkin teman dekatku-Yuri. Tak ku sangka, makhluk dingin yang selama ini sering menjadi rivalku pun cukup heran atas perubahan sikapku itu. Aku sendiri tidak tahu sedrastis apa sikapku ini hingga membuat banyak orang bertanya-tanya.

“Akhir-akhir ini gue ga pernah dengar loe komplain atas usulan atau pun presentasi gue. Kenapa ?” Tanya manusia dingin itu padaku di suatu siang. Aku kembali bungkam. Aku tahu, dia bukan salah seorang yang mencurangiku dalam setiap ujian tapi dia adalah salah seorang manusia yang paling tidak aku suka di kelas karena sikapnya yang cenderung sombong dan semena-mena. Aku pernah mendengar komentarnya tentang aku secara tidak sengaja saat beberapa teman membicarakan hubungan kami. Hubungan yang sebenarnya lebih mirip kucing dan anjing versi kalem ini malah menjadi sumber kesalah pahaman sebagian teman-teman. Duh, sorry ya dia tuh bukan tipe gue banget. Gayanya yang sok ngatur dan sok ‘you know’ aja bikin gue gerah boro-boro deh gue naksir sama dia. Mending pacaran sama monyet kali dari pada sama dia.

Itulah sederet kalimat yang pernah di ucapkannya tentangku. Aku yang saat itu mendengarnya lebih memilih diam dan pura-pura tidak tahu. Ada rasa sakit yang menganga di hati, namun tak bisa aku ungkapkan. Aku lebih memilih untuk mengkoreksi komentar pedasnya dan menjadikannya sebagai bahan motivasi untuk ke depannya.

“Loe lagi ada masalah ?!”Tanyanya kembali mengagetkanku. Namun sedikitpun tidak mengubah pendirianku untuk diam dan mengacuhkan kalimatnya persis seperti  yang selama ini dia lakukan padaku.

Selesai jam sekolah, aku mampir ke kantin untuk membeli minum karena hari ini panas terik. Namun, entah mengapa saat hendak bayar, aku lupa menaruh dompetku. Ku cari di tas pun tidak ada. Dari belakang,manusia dingin yang entah sejak kapan berada di dekatku, langsung berinisiatif untuk membayarkan minuman yang setengah botolnya sudah ku minum itu.

“Biar gue dulu yang bayar.” Ucapnya datar tanpa ekspresi. Aku yang saat itu kehausan dan bingung ga tahu harus minta tolong sama siapa akhirnya membiarkannya menolongku untuk yang pertama kalinya.

“Thank’s, besok gue bayar.”Jawabku tak kalah datar.

***

          “Ini uang yang kemaren gue pinjem. Sekali lagi thank’s.”

“Ga usah, loe ambil aja. Gue udah ngeikhlasin kok, anggap aja itu sedekah.”

“Gue ga butuh sedekah dari loe.”Tanpa banyak bicara aku menaruh uang itu di mejanya dan langsung pergi. Lagi-lagi aku merasa tersinggung dengan kata-katanya yang sedikit tapi menusuk. Heran banget kenapa banyak cewek yang suka sama dia.

“Duh Aini, Dia tuh pinter banget yaa..” “Duh sumpah deh dia keren banget apalagi kalo udah main basket.” “Gila,dia multitalenta banget bukan Cuma pinter dan jago main basket tapi dia juga jago main gitar.Petikan gitarnya bikin aku merinding Ai.” Dan sejuta sanjungan lain yang sering aku dengar dari mulut teman-temanku untuk si manusia angkuh itu.

Sepulang sekolah aku pergi ke perpustakaan daerah. Melewati gang-gang sempit dan sepi. Namun di luar dugaanku, aku melihat 5 orang tak dikenal menyerang seorang pemuda di pertigaan jalan dengan tanpa ampun. Saat aku amati perlahan,pemuda yang dikeroyok itu ternyata si manusia dingin. Aku tak tahu harus bagaimana. Segera saja ku nyalakan handphone dengan suara sirine mobil polisi. Mereka semua ketakutan dan segera pergi meninggalkan si manusia dingin yang sudah babak belur. Aku berlari mendekatinya dan segera menghubungi kantor polisi terdekat. Setelah diperiksa dan memberikan keterangan di kepolisian,kami pun pulang.

“Hidung loe masih berdarah,mau gue anter ke dokter ?”Seketika itu si manusia dingin menatapku dengan tatapan kaget.

“Kenapa ?” Kok loe liatin gue kaya gitu ?”

“Nggak,gue heran aja..Ternyata cewek nyebelin kaya loe masih punya hati juga ya ?!”

“Terserah deh loe mau bilang apa,gue capek.”Aku pergi dan memalingkan muka darinya.

“Loe ngambek ?” Si manusia dingin mencoba mensejajari langkahku. Aku segera berlari dan tak menghiraukan kata-katanya. Lagi-lagi aku merasa tersakiti oleh kata-katanya. Sedikitpun dia tidak pernah bisa belajar untuk menghargai oranglain.

Saat di sekolah,dia mencoba mendekatiku. Entah bermaksud apa,namun  aku merasa trauma jika harus berada di sekitarnya. Sial, saat pembagian kelompok praktek Biologi,aku ditakdirkan sekelompok dengannya dan harus duduk 1 meja. Dan jauh lebih sial lagi saat si manusia dingin terpilih menjadi ketua kelompok dan dia menugasi aku bersama-sama dengannya untuk mencari bahan-bahan buat praktikum minggu depan.

“Besok pulang sekolah,gue sama Aini cari bahannya. Yuri,tolong loe siapin lembar laporannya. Dan Hera,tolong loe cari materi buat bikin makalahnya.”

“Ok.”sahut yang lain.Sepertinya hanya aku yang merasa terdzalimi.

Keesokan harinya, kami pergi bersama untuk mencari bahan-bahan praktikum. Di jalan aku tak banyak bicara dan saat dia bertanya ini-itu aku jawab seperlunya. Dan saat hendak menyebrangi jalan, sebuah mobil dengan kecepatan kencang nyaris menabrakku. Kalo saja si manusia angkuh itu tidak menarik tanganku dengan tepat waktu, tentu aku sudah mati.

“Kalo nyebrang lihat kanan-kiri.”Ucapnya datar.

Aku hanya diam. Tak kusangka karena kejadian itu,setiap hendak menyebrang dia dengan sigap menuntunku. Dia juga mengantarkan ku sampai rumah bahkan sempat berbincang-bincang dengan ayah dan ibu. Yang membuat aku heran,ayah dan ibu begitu menyukainya. Menurut mereka,ia sosok yang santun dan apa adanya. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar pujian itu seolah hanya aku yang bisa melihat sisi negative yang ada padanya.

Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Alhamdulillah di usiaku yang ke-25 aku telah menyelesaikan masterku di Australia dengan gelar cumlaude. Sekarang aku mengajar menjadi asisten dosen di sebuah universitas terkemuka di Bandung. Seperti biasa,setiap akhir pekan aku pulang ke rumah  orangtua di daerah Bogor. Ayah dan ibu pun menyambutku hangat. Selesai makan malam, aku dikejutkan dengan kedatangan Angga Pramudia Pratama,si manusia dingin yang angkuh dan menyebalkan. Jujur saja kedatangannya membuat debar jantungku tak menentu namun rasa sakit yang dulu sering ia torehkan itu bisa dengan sempurna menutupinya.

“Seperti yang telah ayah dan ibu ketahui,maksud kedatangan saya malam ini adalah untuk melamar Aini Nurul Azizah, putri pertama ayah dan ibu.”ucapnya dihadapan ayah,ibu dan aku. Entah kenapa dari sikap dan bahasanya ia seperti sudah begitu dekat dengan kedua orangtuaku. Aku juga kaget bukan main saat malam itu, dia dengan mantap dan tanpa rasa malu menyatakan perasaannya padaku.

“Maaf aku ga bisa mutusin malam ini.”Ucapku dingin dan datar. Aku merasa ini begitu mendadak. Aku merasa ini seperti mimpi. Laki-laki yang selama ini bersikap dingin,angkuh dan selalu menunjukan ketidak sukaannya padaku tiba-tiba saja datang ke rumah,melamar dan memintaku menjadi pendamping hidupnya.Bahkan dengan mantap ia menyatakan perasaannya di hadapan orangtuaku. Apa maksudnya ?

Malam itu aku lalui dengan perasaan yang sulit dimengerti. Ada rasa bahagia,bingung,takut dan ragu.

Sebulan setelah lamaran itu datang, ia mengirim sebuah surat untukku.

Assalamu’alaikum.

Aini,aku tahu lamaranku bulan lalu mengejutkanmu. Aku tahu selama ini hubungan kita memang kurang begitu baik. Sikapku dulu memang begitu menyebalkan. Tapi apa kamu tahu Aini bahwa dari sejak SMA dulu aku sudah menjadi pengagum rahasiamu. Saat banyak teman mengejarku,sibuk mencari perhatianku,aku berharap kamu salah satu diantara mereka. Tapi kenyataannya,kamu adalah satu-satunya yang cuek dan tak menghiraukan kehadiranku. Saat berdebat dan bertengkar denganmu adalah saat-saat yang ga bisa aku lupain. Apalagi saat kamu menolongku. Rasanya aku ingin mengabadikan kejadian itu. Dan saat menuntunmu,tak tahu kenapa rasanya aku tak ingin sedikitpun melepasnya.Aini,maaf jika sikapku selama ini telah banyak menyakitimu. Jika lamaran itu begitu terkesan terburu-buru. Sekalipun pada akhirnya kamu menolak lamaranku,aku harap kita masih bisa berteman dan memperbaiki semuanya dari awal. Besok aku harus pergi ke Yogya karena ada client dari luar.Aku harap sebelum aku pergi,aku telah mendapatkan kepastian itu. Semoga Allah selalu menjagamu.Wassalam

                                                                                      Yang mencintaimu,

Setelah berdiskusi dengan ayah dan ibu,barulah aku tahu bahwa selama ini makhluk yang ‘sok’ dingin itu memang benar-benar serius dengan lamarannya. Menurut ayah dan ibu, sejak aku kuliah S1 pun,dia sering berkunjung ke rumah dan menemani ayah main catur. Dari sikapnya itulah,ayah dan ibu mengerti bahwa sebenarnya diam-diam makhluk ‘sok’ dingin itu memang memiliki kesungguhan yang memang saat itu masih menjadi teka-teki. Namun aku masih bersikeras untuk mengabaikan lamarannya. Tak ku sangka sepulangnya dari Yogya,ia memboyong ayah dan ibunya ke rumah. Keramahan dan kebaikan dari orangtuanya itulah yang justru meluluhkan hatiku hingga aku menyatakan kesediaanku menjadi pendamping hidupnya.

“Iya,aku mau tapi dengan syarat.”

“Apa syaratnya ?”

“Selama aku hidup dan mampu,aku mau menjadi satu-satunya pendampingmu.”ucapku tegas.

“Iya, dari dulu sampai nanti kamu akan tetap menjadi satu-satunya partner sekaligus rival kesayanganku Aini Nurul Azizah.”

“Oya ? Bukannya dulu kamu lebih seneng pacaran sama monyet ya ?”candaku padanya. Ia mengernyitkan alis,namun segera membalasku.

“Kalo monyetnya secerdas dan secantik kamu,aku ga kan nolak.”

“Dasar,master gombal.”

Akhirnya semua keluarga yang menyaksikan turut tertawa menyaksikan dialog kami yang terkesan kekanak-kanakan. Jika dulu aku merasa alergi dan trauma saat harus berada disekitarnya,kini perasaan itu hilang dan berganti menjadi perasaan nyaman dan bahagia. Ah ternyata benar,jarak cinta dan benci itu begitu dekat. Dan dengan mudah Allah sang Pemilik hati ini telah membulak-balikan perasaan benci itu menjadi perasaan cinta.